jump to navigation

Lahirnya Pos, Telegraf dan Telepon (PTT) Juli 3, 2008

Posted by mustel in sejarah.
Tags: ,
trackback

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tanggal 20 September 1906 dapat dicatat sebagai lahirnya PTT (Pos, Telegraf dan Telepon) dalam sistem administrasi pemerintah yang pertama di Indonesia. PTT sejak saat itu berkembang pesat. Khusus mengenai telepon dalam lingkup PTT, terjadi berbagai perubahan dan kemajuan berarti. perubahan dan kemajuan itu seperti dibukanya sendiri oleh pemerintah layanan telepon di luar jawa, yaitu di jambi dan Palembang; digantinya kabel telepon tunggal tak berbalut dengan kabel pilin ganda berbalut karet; sistem baterai lokal diganti menjadi sistem baterai terpusat atau central batery (CB). Selain itu, dilakukan pemasangan kabel di bawah tanah mengganti kawat di atas tanah. Pada tahun 1916 Perusahaan telepon pemerintah Hindia Belanda meresmikan penggunaan sistem distribusi otomatis (automatische verdeelsysteem) dari Ericsson. Begitu pula layanan telepon di tangan pemerintah mengalami babak baru dengan dibukanya “telepon distrik”, yang pada prinsipnya telepon pedesaaan (sejenis local loop) untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pusat.

Secara organisasi, sejak tahun 1907 Dinas Pos dan Telegraf merupakan bagian dari “Departemen van Gouvernementsbedrijven” (Departemen perusahaan-perusahaan pemerintah Dinas Pos, Telegraf dan Telepon) dipimpin oleh seorang pejabat tinggi dnegan jabatan Chef van de PPT-dienst (Kepala Dinas PTT).

Pada masa Hindia Belanda, institusi PTT ini tidak lepas dari suatu gerakan buruh tanggal 20 Mei 1908. gerakan ini merupakan ekspresi solidaritas kaum buruh terhadap kesewenangan pemerintah belanda pada saat itu. Gerakan terkenal waktu itu adalah berdirinya Opium Regie Bond (SS Pegawai Candu dan Garam). Pada tahun 1913 dan SS Postel pada tahun 1917. SS Postel ini hanya berumur lebih kurang satu tahun, karena dipimpin oleh tokoh kontroversial, Muso. Gerakan lain yang terkenal waktu itu adalah Aksi Mogok Staatspoor (SS PNKA) pada tahun 1925 di Semarang. Sementara dalam tubuh PTT sendiri, bermunculan serikat-serikat buruh -merupakan ekspresi perlawanan terhadap Belanda- seperti Postbond; Midpost tahun 1928; PTTR; Inspecteurs Bond; dan Bond pegawai PTT (Jakarta) serta SB Postel Yogyakarta (berarti James Bond waktu itu ada kali ya… :smile: )

Selama kira-kira 4-5 dekade awal abad ke-20, proses ekspansi PTT menjadi sebuah institusi besar juga tidak lepas dari berbagai pergerakan perjuangan melawan pendudukan Belanda dan Jepang. gerakan perjuangan ini tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi seluruh PTT yang ada di Nusantara waktu itu bereaksi. Reaksi ini suatu bukti bahwa selain diantara para PTT mempunyai solidaritas tinggi terhadap perjuangan, juga institusi PTT mempunyai makna strategis. Makna strategis yang dimaksud adalah bahwa PTT kelak diproyeksikan mampu menciptakan kesatuan Nusantara; menyebarluaskan informasi; dan berita-berita penting lainnya. Ini sungguh salah satu hal yang tidak diinginkan kaum penjajah. dalam perjuangan ini, beberapa nama penting, seperti SOETOKO (kelompok pemuda) dan MAS SOEHARTO dan R. DIJAR (kelompok tua) sangat berperan dalam upaya memperjuangkan dan membesarkan PTT di tengah gejolak peperangan waktu itu.

masih banyak lagi…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: